Cari daftar harga tiket Garuda yang lagi promo?

Di pergi.com kamu bisa cek, daftar, booking online dengan harga termurah.

Profil Garuda
Garuda secara resmi diserahkan ke pemerintah Indonesia dari Kerajaan Belanda pada 27 Desember 1949. Lambang burung Garuda pada maskapai ini menggambarkan simbol budaya yang lekat dengan masyarakat Indonesia. Garuda sendiri merupakan burung elang berukuran besar yang terkenal pada mitologi di era Hindu Buddha. Garuda juga menjadi lambang negara Republik Indonesia karena memiliki karakter gagah berani.

Sebelumnya, Garuda merupakan penerbangan yang merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan pembawa bendera Kerajaan Belanda, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM). Dan pada 28 Desember 1949, dengan DC-3 PK-DPD, Garuda melayani penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta untuk menjemput Presiden Soekarno. Hal ini juga ditandai sebagai awal penerbangan NV Garuda Indonesian Airways. Kemudian, pada 1956, Garuda menjalankan penerbangan hajinya yang pertama menggunakan Convair 340.

Pada era 60-an, Garuda mengalami perkembangan yang cukup pesat, yang ditandai dengan datangnya armada jenis baru. Armada baru yang dipakai yaitu, Lockheed L-188 Electra dan Convair CV 990 untuk rute Amsterdam - Jakarta. Dengan demikian, keseluruhan armada yang digunakan Garuda yaitu; DC-3/C-47 Dakota, Convair 440, Lockheed L-188, Convair 990A, Fokker F-27, dan DC- 8.

Di era 80-an, Garuda mengalami perkembangan penting. Selain didatangkannya armada Boeing 747-200, Garuda juga berinovasi. Di tahun 1982, Garuda mulai menerapkan “Wiwieko Cockpit”, atau Forward Facing Crew Cockpit. Dua tahun kemudian, armada Garuda terdiri dari Boeing 747-200, DC-100, Airbus A300B4, DC-9, dan F 28. Pada era ini pula Garuda menjadi operator F 28 terbesar di dunia dengan 36 unit F 28 yang dimilikinya. Perubahan lain yang dialami Garuda dalam dekade ini adalah perubahan logo Garuda. Logo diubah menjadi gambar ilustrasi burung Garuda dengan tulisan Garuda Indonesia. Warna hijau dan biru pun menjadi pilihan untuk warna dominan, karena warna ini dianggap menggambarkan bumi Indonesia.

Tahun 1994, Garuda membeli pesawat terlebar di era 90-an, yaitu Boeing 747-400. Pembelian unit pesawat ini merupakan bagian dari proses regenerasi armada Garuda. Saat itu Fokker F28 dan DC9 yang dimiki mereka diganti dengan Boeing 737 Classic (-300, -400, dan -500). Lalu di awal 90-an, Garuda menerapkan strategi untuk tujuan jangka panjang. Strategi ini dimaksudkan untuk menyambut Millenium (tahun 2000). Salah satu konsep yang diterapkan termasuk penerapan harga kompetitif untuk pelayanan premium mereka. Biaya untuk pengeluaran yang tidak perlu pun dipangkas untuk menjalankan konsep ini.

Mengikuti perkembangan dan kemajuan yang dialami Garuda dalam beberapa dekade sebelumnya, di tahun 1998, Garuda pun sempat mengalami dampak dari krisis moneter. Kemudian, di tahun 2005, Garuda melakukan restrukturisasi manajemen. Namun, Garuda mengalami kemajuan dan akhirnya menjadi salah satu dari 30 maskapai terbaik di dunia.  


Dengan tujuan menjadi salah satu maskapai terbaik di dunia, Garuda mencanangkan program Quantum Leap Garuda Indonesia di tahun 2009. Di tahun 2011, Garuda Indonesia memulai penawaran saham perusahaan pada publik (Initial Public Offering/ IPO). Garuda juga memberi pelayanan dengan konsep “Garuda Indonesia Experience” dimana penumpang dapat menikmati keramahan dan suasana khas budaya tanah air.


Garuda menegaskan komitmennya untuk menyajikan keramahan dan nuansa khas Indonesia dengan seragam bermotif batik yang dikenakan oleh pramugarinya. Hal ini juga mengingat batik merupakan kebanggaan nasional yang diresmikan sebagai World Heritage oleh UNESCO pada tahun 2009. Dengan keseluruhan pelayanan yang prima dan misi untuk memberikan “Garuda Indonesia Experience” pada penumpang, menjadikan Garuda pantas sebagai maskapai dengan bintang lima.
Kebijakan Garuda
Kebijakan penumpang anak-anak dan bayi Garuda Indonesia
  • Klasifikasi umur anak-anak adalah 2-12 tahun. Garuda menyiapkan layanan pendampingan untuk anak-anak yang bepergian sendiri.

  • Klasifikasi umur bayi adalah 0-2 tahun. Bayi di bawah 7 hari tidak disarankan untuk dibawa dalam penerbangan. Bayi yang tidak dalam kondisi sehat (tidak memerlukan ijin medis) dan berumur 7 hari -  2 tahun dapat diterima dalam penerbangan dengan didampingi minimal satu penumpang dewasa.

  • Harga rata-rata tiket domestik untuk bayi adalah sekitar Rp 50.000 hingga Rp 200.000 tergantung rute penerbangan.


Prosedur Perubahan/Pembatalan/Refund Garuda Indonesia

Prosedur Refund

Untuk keterangan refund, silakan baca halaman Bantuan


Perubahan Nama
  • Perubahan nama hanya bisa dilakukan di kantor penjualan tiket Garuda Indonesia dengan batas waktu maksimal 24 jam sebelum keberangkatan
  • Dokumen yang harus dibawa berupa: Tiket Garuda Indonesia, KTP atau paspor (untuk rute internasional)
  • Koreksi nama hanya diperbolehkan sebanyak maksimal 2 karakter
  • Biaya koreksi nama disesuaikan dengan kebijakan maskapai (tergantung rute penerbangan).
  • Metode pembayaran yang diterima disesuaikan dengan masing-masing kantor cabang
  • Permintaan pengubahan nama melalui call center Garuda Indonesia tidak akan diproses

Reroute/Pindah Rute

Proses ini hanya dapat dilakukan melalui Call-Center Garuda Indonesia: 0804-1-807-807.

Reschedule/ Perubahan Jadwal

  • Hanya dapat dilakukan melalui Call Center Garuda Indonesia di nomor 0804-1-807-807
  • Rebook dapat dilakukan hanya untuk kelas dan penerbangan yang sama
  • Jika harga tiket baru lebih rendah, selisih harga tidak akan dikembalikan

Berikut ketentuan reschedule Garuda sesuai dengan kelasnya:

    1. Kelas J, C, D, I, Y, B, dan M:

    • Batas waktu maksimal 2 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 25% dari harga tiket.

    2. Kelas K, N, dan Q:

    • Lebih dari 72 jam hingga 24 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 10% dari  harga tiket.
    • Antara 24 jam hingga 12 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 25% dari harga tiket.
    • Antara 12 jam hingga 2 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 35% dari harga tiket.
    • Kurang dari 2 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 50% dari harga tiket.

    3. Kelas T, V, S, dan H:

    • Lebih dari 72 jam hingga 48 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 25% dari harga tiket.
    • Antara 48 jam hingga 24 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 40% dari harga tiket.
    • Antara 24 jam hingga 2 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 50% dari harga tiket.
    • Kurang dari 2 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 70% dari harga tiket.

    4. Kelas L:

    • Lebih dari 72 sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 25% dari harga tiket.
    • Antara 72 jam hingga 48 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 50% dari harga tiket.
    • Antara 48 jam hingga 24 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 60% dari harga tiket.
    • Antara 24 jam hingga 12 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 70% dari harga tiket.
    • Antara 12 jam hingga 2 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 80% dari harga tiket.
    • Kurang dari 2 jam sebelum keberangkatan, dikenakan biaya reschedule sebesar 90% dari harga tiket.